Artikel
MARKISA MENJADI LADANG BISNIS TAMBAHAN YANG MENGUNTUNGKAN
MARKISA MENJADI LADANG BISNIS TAMBAHAN YANG MENGUNTUNGKAN
Berawal dari melihat adiknya yang menanam markisa, Wayan Armaya mencoba pekerjaan petani markisa sebagai sambilan, memang tidak ada yang menyangka bisa hasilkan belasan juta perbulan. Bagaimana tidak selain itu dirinya juga bekerja sebagai sekertaris di kantor Desa Kutuh Kecamatan Kintamani Bangli. Kendati punya pekerjaan sampingan tersebut dirinya tak pernah lupa dengan tugas sebagai seorang sekertaris desa, bahkan dirinya juga mengajak warga yang lain untuk mengembangkan markisa karena selain perawatan yang mudah juga hasil panennya tidak musiman.
Proses perawatan tanaman markisa yang tidak begitu sulit bahkan dengan tahapan yang hampir sama dengan buah lain yaitu penanaman, pemupukan, penyiraman, dan yang paling diperhatikan setiap minggunya adalah bagaimana mengatur agar cabang merambat pada tali dengan baik agar tidak menjalar ke tumbuhan lainnya. hal tersebut membuat petani markisa bisa menjadikan pekerjaan itu sebagai sambilan yang cukup menjanjikan, "Merawat markisa tidak sulit hampir sama seperti buah lokal lainnya cuma harus diperhatikan batang yang merambat agar mengikuti tali yang sudah dipasang dengan baik supaya bisa berbuah sempurna,"jelas Wayan Armaya.
Selain itu untuk buah markisa panennya perminggu bisa mencapai ratusan kilogram. Dengan dua jenis makisa kuning dan markisa ungu yang di tanam bisa mencapai harga belasan juta dengan harga perkilonya 5 sampai 10 ribu. Penjualan untuk buah markisa sendiri masih diseputaran Buleleng, Gianyar, Denpasar dengan setiap panen menghubungi pengepul untuk mengambil ke rumahnya, "Jenisnya ada 2 kuning dan ungu dengan panen perminggu ratusan Kilogram harganya bervariasi untuk yang kuning 5000 perkilo dan yang ungu 10.000 ribu perkilo tapi saat ini masih suka dijadikan satu sama pengepul jadinya perkilo 10 ribu dibeli," urainya.
Tidak hanya itu, Pembibitan markisa bisa diambil dari batang ataupun biji dari markisa yang mempunyai kualitas bagus. Kalau memakai biji maka setelah memiliki tinggi 40-50 cm baru bisa ditanam kelahan. yang lebih luas, namun jika memakai batang proses belajar berbuahnya lebih cepat dengan umur 6-9 bulan. Bahkan kebanyakan petani ditempatnya lebih memilih batang agar lebih cepat menghasilkan. Armaya sendiri memulai menanam markisa sudah sejak tahun 2014 kemudian mulai memasarkan dari tahun 2017. Dirinya juga menyebutkan susahnya untuk saat ini masih mencari pengepul ketika panen raya tiba karena petani lain juga membawa hasil panen mereka ke rumahnya untuk dibantu menjual ke pengepul,"Kalau pakai biji sampai berbuah bisa sampai umur 1,5 tahun, tapi kebanyakan memakai batang karna umur 6-9 bulan sudah mulai belajar berbuah, itu kenapa petani lebih memilih cara pembibitan dengan batang. Terus saya pribadi memulai dari tahun 2014 dan memasarkan sekitar tahun 2017," tutupnya
| Jro mangku gegel |
|---|
|
09 Desember 2019 17:06:51 Tanaman anggur markisa ala desa kutuh yg perlu dikembangkan dan dibudidayakan lebih luas mengingat harganya semakit meroket dan tanaman ini mempunyai rasa yg khas yaitu rasa nano nano |






PELAKSANAAN KEGIATAN BULAN BUNG KARNO TAHUN 2026
PENYELENGGARAAN BULAN BAHASA BALI VIII TAHUN 2026
KEGIATAN POSYANDU BULAN PEBRUARI di BANJAR KUTUH
MusDes Tentang Laporan Pertanggungjawaban APBDes Tahun Anggaran 2025
Musdes Pembahasan dan Penyepakatan Rancangan Peraturan Desa Kutuh Tentang APBDesa Tahun 2026
Pembentukan Pengurus Karang Taruna Andre Samsya Kerthi Guna Desa Kutuh
Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes)
MELESTARIKAN DAN MENGEMBANGKAN BAHASA AKSARA DAN SASTRA BALI
APBDES
Musyawarah Desa (MusDes), Laporan Pertanggungjawaban Realisasi APBDes Tahun Anggaran 2023
SURGA DI PELOSOK DESA
MUSYAWARAH DUSUN (MUSDUS) BANJAR ANGANSARI
IMPLEMENTASI DAN TANTANGAN UNDANG – UNDANG DESA
Kewenangan Desa dan Regulasi Desa
RAPAT HASIL PENDATAAN AWAL REGSOSEK (Registrasi Sosial Ekonomi 2022)
PELAKSANAAN GOTONG ROYONG SERENTAK
VAKSINASI SERENTAK LAWAN COVID-19
PEMDES KUTUH GELAR LOMBA PERINGATAN BULAN BUNG KARNO